Penjual Sate, Penghasil Karbondioksida
Betapa lezatnya jika kita melihat santapan ini!! kenapa tidak? semua orang sangat menyenangi makanan ini, baik dari anak kecil (tidak termasuk bayi), remaja sampai orang tua pun menyenanginya. Kebayangkan rasany (Waah.. ngiler neh!!).
Makanan yang terbuat dari potongan daging ini ayam, kambing, domba, sapi, ikan atau lainnya. Daging tersebut dipotong kecil-kecil dan ditusuki dengan tusukan sate yang biasanya dibuat dari bambu, kemudian dibakar menggunakan bara arang kayu. Sate kemudian disajikan dengan berbagai macam bumbu.
Nah, yang jadi masalah adalah saat proses pembakaran. Kenapa?
Dalam hal ini, ssetidaknya dalam proses pembakaran, pastinya menggunakan arang atau bahan pembakaran lain. Pembakaran?
Pembakaran adalah reaksi kimia, dimana hasil dari pembakaran adalah berupa gas Karbondioksida. Ini merupakan masalah yang semua orang ketahui, bahwa karbondioksida dapat mengurangi Gas Rumah Kaca.
Trus apa hubungannya dengan Penjual sate?
tentunya ada!!
Bayangkan saja, setiap kali Penjual Sate tersebut membakar satenya, gas Karbondioksida tercipta. Pikir-pikir, misalnya di kota kita ada sekitar 50 Penjual Sate dalam satu hari. Berapa banyak gas Karbondioksida dihasilkan?HHoo...
Berapa ya? saya sendiri tidak tahu.
Jika sudah begini, siapa yang akan disalahkan?
Tidak mungkin kalau kita menyalahkan Penjual Sate. Bisa-bisa kita yang mungkin disalahkan!! Makanan ini adalah makanan yang berasal dari Jawa, kita tetap harus melestarikannya. Tapi bagaimanapun, kita sama-sama cari solusi, siapa tahu kita jadi penemu cara bakar sate tanpa asap!! Hha... Mungkin saja... Baca kelanjutannya...






